Wilayatul Faqih – Imam Khumaini (4)

Serah Diri Massa Terhadap Kemajuan Material Barat

Setelah membahas peran dekonstruktif penjajah, sekarang perlu kita tambahkan faktor internal sebagian orang di tengah masyarakat kita sendiri. Yaitu, mental menyerah mereka di hadapan kemajuan material penjajah. Ketika negara-negara imperialis menumpuk kekayaan dan menikmati kemewahan hasil kemajuan sains dan industri atau hasil menjajah dan menjarah kekayaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika, orang-orang itu langsung menyerah tak berdaya. Mereka mengira jalan industri modern adalah menyingkirkan undang-undang dan keyakinan dirinya! Begitu para penjajah –sebagai contoh- pergi ke bulan, orang-orang itu mengira harus menyingkirkan undang-undangnya sendiri! Memang apa hubunganya pergi ke bulan dengan undang-undang Islam! bukankah mereka melihat sendiri berbagai negara dengan undang-undang dan sistem sosial yang bertentangan bersaing dalam kemajuan industri dan ilmu pengetahuan serta penaklukan angkasa?! Bukankah mereka tetap sama-sama maju?!

Katakan mereka pergi ke Mars dan planet-planet galaksi lain, tetap saja mereka tidak mampu mencapai kebahagiaan dan keutamaan akhlak serta ketinggian jiwa, tetap tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan sosial mereka sendiri. Karena, penanganan atas problem sosial dan kemalangan mereka butuh solusi keyakinan dan akhlak. Dengan mencari kedudukan material, harta, dan penaklukan alam serta angkasa tidak akan bisa diselesaikan.

Kekayaan dan kekuasaan materi serta penaklukan angkasa butuh iman, akidah dan akhlak Islam agar sempurna, seimbang dan melayani umat manusia; agar tidak menjadi bencana bagi manusia. Kita punya akidah, akhlak dan undang-undang itu. Karenanya, begitu ada orang pergi ke suatu tempat atau menciptakan satu barang, kita jangan langsung melepaskan agama dan undang-undang yang berhubungan dengan kehidupan manusia serta merupakan faktor pembenah keadaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Propaganda penjajah juga kondisinya sama. Mereka musuh kita, dan atas dasar itu mereka membuat propaganda. Tapi sayang sekali sebagian masyarakat kita terpengaruh. Padahal, tidak semestinya mereka terpengaruh. Negara-negara penjajah mendikte kita bahwa Islam tidak punya pemerintahan, tidak punya organisasi pemerintahan. Kalau pun punya hukum dan undang-undang, tapi tidak punya eksekutor. Ringkas kata, Islam hanya pembuat undang-undang. Tentu saja propaganda ini bagian dari agenda imperialisme untuk menghalangi Muslimin dari politik dan asas pemerintahan. Dan itu bertentangan dengan keyakinan asasi kita.

Keyakinan Mengenai Urgensi Pendirian Pemerintah Sebagai Bagian dari Wilayah

Kita meyakini “Wilayah”. Kita yakin bahwa Nabi Muhammad Saw pasti menentukan khalifah, dan beliau lakukan itu. (1) Apakah khalifah ditentukan untuk menjelaskan hukum? Penjelasan hukum tidak perlu khalifah. Beliau sendiri selalu menjelaskan hukum. Semua sudah menulis hukum itu dalam buku, dan mereka berikan kepada masyarakat untuk diamalkan. Bahwa secara rasional beliau pasti menentukan khalifah, adalah untuk pemerintahan. Kita butuh khalifah untuk menerapkan undang-undang. Undang-undang meniscayakan pelaksana. Di semua negara dunia jelas bahwa perundang-undangan semata tidak ada gunanya dan tidak menjamin kebahagiaan manusia. Setelah legislasi, harus ada eksekutif. Perundang-undangan atau pemerintahan tanpa kekuatan pelaksana berarti cacat. Karena itu, Islam sebagaimana telah membuat undang-undang, ia juga telah menetapkan eksekutif. Wali Amr juga bertanggungjawab sebagai penegak hukum. Seandainya Nabi Muhammad Saw tidak menentukan khalifah, “niscaya engkau tidak menyampaikan risalahmu.” (2) Sama dengan tidak menyampaikan misinya. Urgensi penerapan hukum dan keniscayaan eksekutif serta pentingnya dalam merealisasikan risalah dan menciptakan sistem keadilan yang menjamin kebahagian manusia membuat penentuan khalifah jadi sepadan dengan pelengkapan risalah.

Pada zaman Rasulullah Saw, beliau bukan hanya menyampaikan dan menjelaskan undang-undang; melainkan beliau juga menerapkannya. Rasulullah Saw adalah pelaksana undang-undang. Sebagai contoh, beliau menerapkan undang-undang pidana; beliau potong tangan pencuri, laksanakan hukum had, dan merajam. (3)
Khalifah juga ditentukan untuk urusan-urusan ini. Khalifah bukan legislatif. Khalifah dilantik untuk menerapkan hukum-hukum Allah Swt yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. Di sinilah jelas sekali kenapa pembentukan pemerintahan dan pendirian badan eksekutif dan administratif merupakan sebuah keharusan.

Keyakinan tentang urgensi pembentukan pemerintahan dan pendirian badan eksekutif dan administratif  adalah bagian dari –keyakinan terhadap- Wilayah. Sebagaimana perjuangan dan upaya untuk itu juga bagian dari keyakinan terhadap Wilayah. Dan hal ini perlu diberhatikan sebaik-baiknya.

Sebagaimana mereka melawan kalian dan mengenalkan Islam secara buruk, hendaknya kalian memperkenalkan Islam apa adanya. Jelaskan Wilayah sebagaimana mestinya. Utarakan bahwa kita yang meyakini Wilayah, yang meyakini bahwa Rasulullah Saw telah menentukan khalifah dan Allah Swt yang memerintahkan beliau untuk melantik khalifah atau Wali Amr Muslimin, mau tidak mau harus meyakini darurat pembentukan pemerintahan; kita harus berusaha untuk mendirikan badan pelaksana hukum dan pengatur urusan rakyat. Perjuangan dalam mendirikan pemerintahan Islam adalah konsekuensi pasti dari keyakinan terhadap Wilayah. Kalian harus menulis dan menyebarkan undang-undang Islam, pengaruh sosialnya, dan faedahnya. Kalian harus menyempurnakan metode dan pola tablig serta kegiatan. Perhatikan bahwa kalian punya kewajiban untuk mendirikan pemerintahan Islam. Percaya dirilah, dan ketahuilah bahwa kalian mampu memikul tanggungjawab ini.

Para penjajah sejak tiga ratus – empat ratus tahun lalu telah menyiapkan latar belakang. Mereka mulai dari nol sampai sini. Kita juga mulai dari nol. Sama sekali jangan takut pada keributan berapa orang pro-Barat dan boneka-boneka kolonial. Perkenalkan Islam kepada masyarakat agar generasi muda tidak membayangkan bahwa para ruhaniawan di pojok-pojok kota Najaf atau Qum hanya sedang mempelajari hukum darah haid dan nifas serta tidak ada urusan dengan politik, jangan sampai mereka mengira agama harus dipisahkan dari politik. Isu bahwa agama harus pisah dari politik dan ulama Islam tidak boleh campur tangan dalam persoalan sosial serta politk sengaja dihembuskan dan disebarkan oleh imperalis. Ini semua diutarakan oleh orang-orang yang tidak beragama. Memangnya pada zaman Nabi Muhammad Saw politik terpisah dari agama? Memangnya pada waktu itu sebagian ulama dan sebagian lagi politikus atau pemimpin? Memangnya pada periode khalifah yang haq, atau bahkan yang tidak haq, politik terpisah dari agama? Memangnya pada masa kekhalifahan Amirul Mukminin Ali as politik terpisah dari agama? Memangnya ada dua badan terpisah ketika itu? Semua itu omongan yang sengaja dibuat oleh para penjajah dan agen-agen politik mereka guna menyingkirkan agama dari pengelolaan hal-hal dunia dan dari manajemen sosial umat Islam. Di samping itu juga untuk menjauhkan ulama Islam dari masyarakat dan para pejuang jalan kebebasan serta kemerdekaan. Dengan cara ini mereka mampu mendominasi masyarakat dan menjarah kekayaannya. Dan memang itulah target mereka.

Kalau saja kita, Muslimin, tidak punya kegiatan selain shalat, doa dan zikir, maka penjajah dan negara-negara zalim sekutu mereka tidak akan berususan dengan kita. Pergilah kumandangkan azan sepuas kalian, shalatlah; biarkan mereka datang menjarah apa pun yang kita punya, urusan mereka nanti dengan Allah Swt! — La haula wa la quwwaya illa billah! — dan waktu kita mati, insyaallah kita mendapat pahala! Kalau ini logika kita, mereka pasti tidak berurusan dengan kita. Itu orang (militer Inggris pada masa penjajahan Irak) pernah bertanya, “Apakah prihal orang mengumandangkan azan di menara berbahaya bagi politik Inggris?” Mereka jawab, “Tidak”. Maka dia berkata, “Kalau begitu biarkan saja dia azan sepuas-puasnya!” Jika kalian tidak berurusan dengan politik para penjajah, dan Islam kalian pandang tidak lebih dari hukum yang rutin kalian bahas serta tidak pernah keluar dari garis ini, sudah barang tentu mereka juga tidak akan berurusan dengan kalian. Shalatlah sesuka kalian; mereka menginginkan minyak kalian, mereka tidak ada urusan dengan shalat kalian.

Mereka menginginkan tambang-tambang kita; mereka ingin negara kita menjadi pasar penjualan barang-barang mereka. Itulah sebabnya pemerintah-pemerintah boneka imperialis mencegah kita dari perkembangan industri; atau kalau tidak, mereka bangun industri tapi bergantung dan montase. Mereka ingin kita bukan manusia! Mereka takut manusia. Kalau ditemukan satu manusia, mereka takut padanya. Karena manusia itu akan reproduksi dan membawa dampak buruk terhadap asas dispotisme, kolonialisme, dan pemerintah mitra yang tunduk. Karena itu, setiap kali muncul manusia, pasti mereka bunuh, mereka penjarakan, mereka asingkan, atau mereka coreng nama baiknya dengan stigma “politis”! Ini ulama politis! Padahal, Nabi Muhammad Saw adalah seorang politis. Propaganda hitam ini dilakukan oleh agen-agen politik imperialis untuk menyingkirkan kalian dari politik, dan mencegah kalian dari campur tangan dalam persoalan sosial. Mereka tidak ingin kalian berjuang melawan pemerintah-pemerintah pengkhianat dan politik-politik anti-Nasionalisme serta anti-Islam. Mereka ingin berbuat semaunya, berlaku galat seenaknya, dan tidak ada seorang pun yang menghalangi. (WF)

(1) Rasulullah Saw berulangkali telah menyatakan hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as sepeninggal beliau. Antara lain tertera dalam Hadis Yaumud Dar atau Hari Rumah (Hari Dakwah Keluarga), Hadis Manzilat (pernyataan tentang kekhalifahan Ali as bagi Nabi Saw pada waktu perang Tabuk), Ayat Wilayat (yang mensinyalir pemberian cincin kepada orang fakir-miskin), Peristiwa Ghadir Khum dan Hadis Tsaqalain atau Dua Pusaka, serta lain-lain.
Tafsir Kabir, jld. 12, hal. 28 dan 53 setelah ayat 55 dan 67 Surat Al-Maidah. Siroh Ibnu Hisyam, jld. 4, hal. 520. Tarikh al-Thobari, jld. 2, hal. 319 dan 322. Al-Ghodir, jld. 1, 2 dan 3.
(2) Disadur dari ayat 67 surat Al-Maidah.
(3) Wasa’il al-Syiah, jld. 18, hal. 376 dan 509.

Hits: 62

Imam Khumaini, Teori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat