Tahrirul Wasilah – Ijtihad dan Taklid 4

Lanjutan Bab IJTIHAD & TAKLID

Tahrirul Wasilah (Hal. 11-13)

(Persoalan 17):

Apabila seseorang bertaklid kepada mujtahid tanpa meneliti keadaannya, kemudian dia ragu apakah mujtahid itu memenuhi syarat atau tidak, maka wajib bagi dia untuk meneliti. Begitu pula, ihtiyath wajib hukumnya bagi dia untuk meneliti apabila dia bertaklid kepada mujtahid yang memenuhi syarat, tapi kemudian dia ragu apakah sebetulnya mujtahid itu memenuhi syarat atau tidak.

Adapun jika dia yakin bahwa mujtahid itu memenuhi syarat, kemudian dia ragu apakah sebagian syaratnya –seperti keadilan atau ijtihadnya- hilang atau tidak, maka tidak wajib bagi dia untuk meneliti. Boleh bagi dia untuk berprinsip bahwa mujtahid itu tetap dalam keadaannya yang pertama (yaitu, memenuhi syarat).

(Persoalan 18):

Apabila terjadi pada mujtahid sesuatu yang menyebabkan dia kehilangan syarat –seperti fasik, gila, atau lupa-, maka wajib bagi mukalidnya untuk berpindah taklid kepada mujtahid yang memenuhi syarat, dan tidak boleh bagi dia untuk tetap bertaklid kepada mujtahid yang kehilangan syarat tersebut.

Hal itu sebagaimana apabila dia bertaklid kepada orang yang sebetulnya tidak memenuhi syarat, dan itu berlangsung sekian lama, maka dia seperti orang yang tidak bertaklid sama sekali, dan keadaan dia sama dengan keadaan orang bodoh yang tidak mampu atau teledor (mampu tapi mengabaikan).

(Persoalan 19):

Ijtihad seseorang dapat dibuktikan melalui [1] penyelidikan, [2] ketenaran yang melahirkan pengetahuan, dan [3] kesaksian dua orang adil dari kalangan ahli. Begitu pula halnya dengan prihal “paling alim” –dapat dibuktikan melalui tiga cara itu-. Dan tidak boleh bertaklid kepada orang yang tidak diketahui bahwa dia telah mencapai tingkat ijtihad, walau pun dia termasuk orang yang berilmu. Hal itu sebagaimana wajib hukumnya bagi orang selain mujtahid untuk bertaklid atau berihtiyath walau pun dia termasuk orang yang berilmu; bahkan nyaris mujtahid.

(Persoalan 20):

Amalan orang bodoh yang teledor dan abai tanpa taklid adalah batal. Kecuali apabila dia melakukannya dengan niat harapan sesuai dengan yang sesungguhnya, dan ternyata memang sesuai dengan yang sesungguhnya atau sesuai dengan fatwa mujtahid yang boleh dia taklidi (baca: maka itu sah). Demikian pula halnya amalan orang bodoh yang tidak mampu dan lalai –tentunya amalan yang dilakukan dengan memperhatikan niat kurbat (mendekatkan diri kepada Allah Swt)- adalah sah apabila sesuai dengan yang sesungguhnya atau sesuai dengan fatwa mujtahid yang boleh dia taklidi.

(Persoalan 21):

Cara mendapatkan persoalan (baca: fatwa tentang persoalan) dari mujtahid ada tiga macam:

Pertama: mendengar langsung darinya.

Kedua: Nukilan dua orang adil atau satu orang adil dari dia, atau dari Risalah Amaliahnya yang dipercaya aman dari kesalahan (baca: seperti salah ketik, salah cetak, dsb.). Bahkan menurut pendapat yang menonjol, cukup dengan nukilan satu orang apabila dia jujur dan kata-katanya dapat dipercaya.

Ketiga: Merujuk kepada Risalah Amaliahnya apabila dipercaya aman dari kesalahan.

(Persoalan 22):

Apabila ada dua penukil yang berbeda dalam meriwayatkan fatwa mujtahid, maka menurut pendapat yang lebih kuat, dua-duanya gugur secara mutlak; baik kedua penukil itu sejajar dalam kejujuran atau tidak. Adapun jika tidak bisa lagi merujuk kepada mujtahid atau Risalah Amaliahnya, maka hendaknya seseorang mengamalkan fatwa yang lebih sesuai dengan ihtiyath (baca: sikap hati-hati) dari dua nukilan tersebut, atau mengamalkan ihtiyath itu sendiri.

(Persoalan 23):

Wajib hukumnya mempelajari persoalan-persoalan tentang ragu dan lupa serta persoalan-persoalan lain yang sering dialami. Kecuali jika seseorang percaya betul bahwa dirinya tidak akan mengalami hal-hal tersebut. Sebagaimana wajib hukumnya mempelajari bagian-bagian dari ibadah dan syarat-syarat, halangan-halangan, serta pengantar-pengantarnya. Iya, apabila seseorang tahu secara global bahwa amalannya memenuhi seluruh bagian dan syarat serta terlepas dari halangan-halangan, maka amalannya sah walau pun dia tidak tahu secara terperinci.

(Persoalan 24):

Apabila seseorang tahu bahwa selang waktu tertentu dia beribadah tanpa taklid, tapi dia tidak tahu berapa lama pastinya, maka apabila dia tahu tata cara ibadahnya dan tahu bahwa itu sesuai dengan fatwa mujtahid yang dia rujuk atau mujtahid yang boleh dia rujuk maka itu sah. Adapun jika tidak demikian, maka dia harus mengada (baca: melunasi) amalan-amalan sebelumnya sampai batas yang dia tahu jadi tanggungjawab dirinya. Kendati pun ihtiyath mustahab bagi dia untuk mengadanya (baca: melunasinya) sampai batas dia yakin tidak ada lagi tanggungjawab itu pada dirinya.

(Persoalan 25):

Apabila amalan-amalan seseorang sebelumnya dilakukan dengan taklid, tapi dia tidak tahu apakah itu taklid yang benar atau taklid yang salah, maka hendaknya dia berpinsip itu taklid yang benar.

(Persoalan 26):

Apabila berapa waktu telah berlalu dari masa balig seseorang, dan dia ragu setelah itu apakah amalannya selama itu atas dasar taklid yang benar atau tidak, maka boleh bagi dia untuk berprinsip bahwa amalan-amalannya yang lalu adalah benar. Adapun mengenai amalan-amalan yang akan datang, maka wajib bagi dia untuk mengoreksinya sesuai taklid yang benar sekarang. (WF)

Hits: 48

Fatwa, Imam Khumaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat