Wilayatul Faqih – Imam Khumaini (3)

Terkadang, di buku-buku dan koran-koran mereka menuliskan bahwa Hukum Pidana Islam adalah hukum kekerasan! Bahkan ada yang sampai lancang sekali menuliskan bahwa itu hukum kekerasan yang datang dari kaum Arab! Adalah kekerasan kaum Arab yang bisa membawakan hukum seperti ini!

Saya heran bagaimana mereka sampai berpikir demikian! Dari satu sisi, ketika berapa orang mereka hukum mati hanya karena 10 gram heroin, mereka sebut itu sesuai undang-undang! (Berapa waktu lalu sepuluh orang, dan baru-baru saja satu orang mereka hukum mati hanya karena 10 gram heroin. Dan ini hanya contoh kecil yang kita dapat informasinya.) Ketika undang-undang yang tidak manusiawi ini dibuat, mereka tidak menyebutnya kekerasan karena itu dibuat atas nama pencegahan atas kebejatan!

Saya tidak mengatakan bahwa orang boleh jual heroin. Tapi, bukan mati hukumannya. Memang harus dicegah, tapi hukumannya harus sesuai dengan itu. (1) Kalau peminum bir divonis hukuman 80 kali cambuk mereka tuduh kekerasan, tapi ketika seseorang dihukum mati hanya karena 10 gram heroin mereka tidak menyebutnya kekerasan! Padahal, banyak sekali kebejatan yang muncul di tengah masyarakat akibat minuman keras; tabrakan yang terjadi di jalan, bunuh diri, dan pembunuhan, banyak sekali yang disebabkan oleh minuman keras.

Mereka mengatakan bahwa penggunaan heroin seringkali disebabkan oleh kecanduan minum bir. Tapi meskipun begitu, orang-orang dibiarkan minum bir. Alasannya, Barat juga demikian! Karena itu mereka bebas membeli dan menjualnya. Namun, ketika ada yang ingin mencegah kekejian, termasuk minuman keras sebagai salah satu contoh konkrit yang paling jelas, dan menjatuhi hukuman 80 kali cambuk bagi pelanggarnya, atau 100 kali cambuk bagi pezina, atau hukuman Rajam (2) bagi pezina muhsan laki maupun perempuan, mereka berteriak, “Oh oh! Celaka!”, “Oh oh! Betapa kejamnya hukuman ini!”, “Ini pasti hukuman yang datang dari Arab!” Padahal, Hukum Pidana Islam datang untuk mencegah kerusakan bangsa yang besar.

Kekejian sudah begitu tersebar dan meluas sehingga menyengsarakan generasi demi generasi, merusak anak-anak muda, dan meliburkan berbagai pekerjaan. Semua orang mengejar hura-hura yang jalannya mereka buka lebar dan mereka budayakan seluas-luasnya. Kemudian, ketika Islam datang untuk mencegah kerusakan generasi muda dan mencambuk satu orang di depan umum (3), mereka tuduh itu kekerasan?!

Dari sisi lain, pembantaian yang dilakukan selama lima belas tahun oleh tuan-tuan para penguasa boneka ini di Vietnam, (4) dan betapa besar biaya yang dianggarkan untuk kejahatan itu, serta betapa banyak darah yang ditumpahkan, menurut mereka tidak ada masalah! Tapi ketika Islam ingin mematuhkan masyarakat terhadap undang-undang yang berguna bagi kemanusiaan, dan untuk itu ia perintahkan manusia untuk bertahan dan perang atau membunuh segelintir orang yang rusak atau merusak orang lain, mereka berteriak kenapa perang ini harus dilakukan!

Semua ini agenda yang sudah dipersiapkan sejak berapa ratus tahun yang lalu; mereka melaksanakannya bertahap, dan mereka berhasil. Mula-mula mereka bangun sekolahan di satu tempat, dan kita tidak mengatakan apa-apa, kita lalai. Orang-orang seperti kita juga lalai untuk mencegah jangan sampai sekolah itu didirikan. Sedikit demi sedikit sekolah itu jadi banyak. Dan sekarang, kalian saksikan dai-dai mereka pergi ke seluruh kampung dan halaman, mereka buat anak-anak jadi Kristen atau tak beragama. (5) Rencana mereka adalah menjaga kita agar tetap terbelakang, tetap dalam keadaan dan kehidupan yang hina, sehingga mereka leluasa menjarah kekayaan dari sumber alam, sumber bawah tanah dan sumber daya manusia kita.

Mereka ingin kita tetap menderita dan sengsara; orang-orang miskin kita tetap sengsara dan menolak hukum Islam yang menyelesaikan masalah kemiskinan. Mereka dan agen mereka tinggal di istana-istana besar dengan gaya hidup yang serba mewah.

Inilah agenda besar yang jangkauannya bahkan sampai ke hauzah-hauzah ilmiah (baca: pondok-pondok pesantren). Sehingga kalau ada orang yang ingin bicara mengenai pemerintahan Islam dan kondisinya, terpaksa harus bertakiyah (baca: berhati-hati) dan menghadapi tantangan dari pihak-pihak yang terjajah. Contohnya, setelah buku ini terbit untuk pertama kalinya, agen-agen kedutaan (Kedutaan Rezim Syah Iran di Irak) langsung beraksi dan mengambil langkah-langkah konyol. Dengan itu mereka mempermalukan diri mereka sendiri lebih parah dari sebelumnya.

Sekarang kondisinya telah sampai pada titik di mana pakaian prajurit dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kemuliaan dan keadilan. (6) Padahal, para imam agama kita dulu adalah prajurit perang, panglima perang, dan orang yang berperang. Di berbagai peperangan yang rinciannya bisa Anda baca dalam sejarah, disebutkan bahwa pemimpin-pemimpin agama kita pergi perang dengan mengenakan pakaian perang, mereka membunuh dan terbunuh.

Amirul Mukminin Ali as mengenakan topi perang di kepala, memakai baju besi di badan, dan membawa ikat pedang. Imam Hasan as dan Sayidus Syuhada Imam Husain as juga demikian. Dan setelah itu, para imam tidak punya kesempatan yang serupa. Seandainya kondisinya sama, Imam Baqir as juga akan berbuat hal yang sama.
Apa yang ingin saya tegaskan di sini adalah kondisinya sekarang telah sampai pada titik dimana memakai seragam prajurit dipandang sebagai perbuatan yang membahayakan keadilan manusia! Karena itu jangan sampai ada yang pakai seragam prajurit! Dan apabila kita ingin mendirikan pemerintahan Islam maka kita harus mendirikannya dengan tetap mengenakan jubah dan surban. Kalau tidak, maka akan bertentangan dengan kemuliaan dan keadilan! Ini semua gelombang propaganda yang sudah sampai sini, dan mendorong kita sampai titik terpaksa harus bersusah-payah untuk membuktikan bahwa Islam juga punya prinsip-prinsip pemerintahan.

Inilah kondisi kita sekarang. Pihak-pihak asing membangun fundamen ini melalui propaganda yang mereka lakukan dan dai-dai yang mereka sebarkan. Undang-undang pengadilan dan politik Islam mereka singkirkan secara total dari kancah kehidupan. Sebagai gantinya, mereka paksakan hal-hal dari Eropa untuk menghinakan Islam dan mengusir masyarakat Muslim. Mereka aktifkan agen-agen mereka, dan mereka menyalahgunakan apa saja yang mereka inginkan.(WF)

(1) Protes Imam Khumaini ra karena alasan lain, yaitu tidak diperhatikannya keadilan. Di pembahasan-pembahasan berikutnya beliau akan menjelaskan lebih detil.

(2) Di dalam Hukum Pidana Islam, salah satu syarat hukuman Rajam dalam perzinaan adalah pelakunya harus terbukti Muhsan. Yang dimaksud dengan Muhsan atau Muhsanah adalah laki/perempuan balig dan berakal yang punya istri/suami yang bisa dihubungi.

(3) Di dalam Hukum Islam, salah satu tata cara pelaksanaan hukuman had pada terpidana adalah sebagian orang-orang Mukmin harus hadir menyaksikan. Fukaha Syiah menegaskan tata ciri ini harus diperhatikan pada waktu eksekusi had zina dan fitnah asusila. Fatwa mereka tentang hal pertama berhubungan dengan ayat kedua surat Nur, “dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman”. Alasan lainnya adalah hadirin dapat mengambil pelajaran dari hukuman ini, dan orang yang sempat terlintas ingin melakukan kejahatan itu niscaya akan tercegah.

(4) Vietnam, setelah bertahun-tahun melawan penjajah Prancis dan Jepang dari tahun 1960, kembali harus berperang habis-habisan melawan Amerika. Perang yang berakhir dengan kalah dan mundurnya tentara AS pada tahun 1973 ini meninggalkan kerugian dan kerusakan yang luar biasa bagi masyarakat Vietnam.

Angka-angka dokumenter berikut, meskipun tidak mampu mendiskripsikan tingkat kerugian agresi kejam ini secara detil, tapi sampai batas tertentu bisa mengungkap kenyataan pahit sejarah kontemporer:

Sampai awal tahun 1965, yaitu ketika perang meluas sampai ke Vietnam utara, jumlah penduduk Vietnam selatan yang gugur atau cedera adalah sebagai berikut: 170.000 orang terbunuh, 800.000 orang luka-luka, dan 400.000 orang dipenjara. Selama itu, jumlah orang yang dikirim ke kamp tawanan dan diberi nama Unit-Unit Pertanian, lebih dari 5.000.000 orang.

Menurut laporan Suara Amerika, 6 Januari 1963, pada tahun 1962 angkatan udara AS melakukan 50.000 kali serangan ke kampung-kampung di luar perbatasan kampung-kampung negeri. Menurut pernyataan Jenderal Harkins, pada tahun ini sekitar 30.000 petani tewas. Operasi udara AS di zona terbang Vietnam selatan mencapai 30.000/bulan. Dan menurut laporan surat kabar New York Times, operasi bersama tentara AS dan pemerintah Saigon telah meluluh-lantakkan kira-kira 1.400 desa dari 2000 desa di selatan dengan bom napalm dan senjata kimia. Laporan Organisasi Palang Merah Merdeka Vietnam Selatan menunjukkan bahwa akibat penggunaan komposisi racun di daerah-daerah yang luas dan penuh penduduk, ribuan penduduk selatan terjangkit macam-macam penyakit, khususnya penyakit kulit, dan mereka harus menderita sangat lama. Di samping itu, banyak sekali kawanan ternak yang binasa, begitu pula perkebunan dan sawah, banyak sekali yang hancur total.

(5) Misionaris Kristen pertama di Iran adalah Nastorian yang pada tahun 1835 M dipimpin oleh seorang pastur bernama Justin Perkins dan Dr. Asahel Grant. Pada tahun 1832 M, “Dewan Pusat Misionaris Asing” AS bertugas untuk pertama kalinya membangun sekolahan di kota Urumiah dengan gaya baru dan dengan dimensi tablig religius. Pada tahun 1255 H, mereka berhasil menarik dukungan dari raja Iran. Sebelum itu, tim-tim religius dari Jerman, Swiss, Inggris dan Prancis aktif di Iran.

Berdasarkan kesepakatan yang kemudian ditandatangi bersama pihak Inggris, utara dan barat Iran menjadi kawasan aktivitas misonaris-misionaris AS, sisanya adalah kawasan aktivitas misionaris-misionaris Inggris. (Rawobethe Siyosiye Iron wa Omeriko (Hubungan Politik Iran dan AS), Abraham Slison, diterjemahkan oleh Muhammad Baqir Aram. Naqsye Keliso dar Mamoleke Eslomi (Peran Gereja dalam Negara-Negara Islam), Musthafa Khalidi dan Umar Farrukh, diterjemahkan oleh Musthafa Zamani).

(6) Keadilan menurut sebuah pendapat adalah sifat yang kokoh dalam diri manusia sehingga dia terus menerus menjaga ketakwaan. Yakni, meninggalkan hal-hal yang haram dan melaksanakan hal-hal yang wajib. Keadilan merupakan salah satu syarat seorang qadhi, mufti dan imam jamaat. Kemuliaan yang dimaksud di sini adalah mengikuti kebiasaan yang baik dan menjauhi kebiasaan yang buruk, bahkan hal-hal yang mubah (baca: halal) tapi tidak pantas menurut publik. Sebagian ulama menyebut kemuliaan ini sebagai salah satu syarat keadilan.

Di dalam kitab Syarh al-Lum’ah, jilid 1, halaman 98, pasal 11 bab shalat jamaah disebutkan bahwa memakai pakaian prajurit adalah sesuatu yang bertentangan dengan kemuliaan dan keadilan. (WF)

Hits: 67

Imam Khumaini, Teori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat