Imam Khamenei: Kesetiaan pada Janji Ilahi Faktor Kesabaran Sayidah Zainab sa

Imam Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei, Rabu 29 Aban 1392 Hs (20 November 2013 M), berpidato dalam pertemuan dengan lima puluh ribu komandan Basiji dari seluruh negeri, dan di bagian pertama pidatonya beliau berbicara tentang gelora Sayidah Zainab Kubra sa seraya menyebut bahwa faktor kesabaran Zainabi adalah kesetiaan terhadap janji Ilahi.

Berikut kutipan dari pidato beliau mengenai Sayidah Zainab Kubra sa:

Sebelumnya, dalam pertemuan dengan masyarakat Azarbaijan Timur, Senin 28 Bahman 1387 Hs (16 Februari 2009 M), Pemimpin Revolusi Islam Imam Khamenei menjelaskan bahwa Arbain, dalam kaitannya dengan tragedi Karbala adalah sebuah permulaan. Setelah peristiwa Karbala terjadi, tragedi yang sangat besar itu, peristiwa penyanderaan memikul tugas penyebaran pesan. Pidato, pembongkaran, dan penyingkapan hakikat yang dilakukan oleh Sayidah Zainab Kubra sa dan Imam Ali Sajjad as laksana media super power yang bertanggungjawab menyebarkan berita peristiwa, ide, tujuan dan orientasinya seluas mungkin. Dan mereka berhasil.

Kemudian di dalam pertemuan dengan lima puluh ribu komandan Basiji (2013), Wali Faqih Zaman menjelaskan, “Gelora besar yang saya maksud adalah gelora Sayidah Zainab Kubra sa yang menyempurnakan gelora Asyura. Bahkan bisa dikatakan bahwa dari satu sisi, gelora yang diciptakan oleh Sayidah Zainab Kubra sa menghidupkan gelora Asyura. Keagungan kerja beliau tidak bisa dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa besar sejarah lainnya, hanya bisa dibandingkan dengan peristiwa Asyura itu sendiri. Betul-betul dua peristiwa ini padanan satu sama yang lain. Manusia agung ini, perempuan luar biasa dan besar Islam bahkan kemanusiaan ini, berhasil menjaga diri tetap tegak dan berkibar di hadapan gunung berat bencana. Bahkan nada suara beliau selama peristiwa ini berlangsung sama sekali tidak bergetar; baik ketika beliau menghadapi musuh, maupun ketika beliau menghadapi bencana dan kejadian-kejadian pahit. Beliau tetap tegar seperti bukit yang berdiri kokoh. Jadi pelajaran. Jadi model. Jadi pemimpin. Jadi penghulu dan terdepan.”

Imam Khamenei melanjutkan, “Di pasar Kufah, dalam keadaan tersandera, Sayidah Zainab Kubra sa menyampaikan pidato yang sangat menakjubkan. Sebagai contoh:

يا اَهلَ‌الکوفَةِ يا اَهلَ الخَتلِ و الغَدرِ! اَ تَبکونَ؟! اَلا فَلا رَقأَتِ العَبرَةُ وَ لاهَدَأَتِ الزَّفرَةُ. اِنَّما مَثَلُکُم کَمَثَلِ التِي نَقَضَت غَزلَها مِن بَعدِ قُوَّةٍ اَنکاثا (اللهوف، 146؛ الاحتجاج 2/303)

(Artinya: Wahai penduduk Kufah!  Wahai ahli tipu daya dan pengkhianat! Apa kalian menangis untuk kami?! Kucuran air mata ini belum berhenti dan jerintan ini belum padam. Kalian tak ubahnya seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.)

Kata-katanya kuat seperti baja, maknanya mengalir seperti air sampai ke relung jiwa yang paling dalam. Dalam kondisi seperti itu, Sayidah Zainab Kubra sa berbicara persis seperti Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as; mengguncang hati, diri dan sejarah. Kata-kata itu abadi dalam sejarah. Itu kata-kata yang disampaikan di hadapan masyarakat dan dalam keadaan tersandera.

Setelah itu juga di hadapan Ibnu Ziyad di Kufah, begitu pula berapa minggu berikutnya di hadapan Yazid di Syam, Sayidah Zainab sa berbicara dengan kekuatan yang luar biasa sehingga membuat musuh terhina. Demikian juga halnya seluruh kesulitan yang ditimpakan oleh musuh terhadap beliau; jadi hina dan kecil di hadapan kebesaran beliau. “Kalian berkhayal batil ingin mengalahkan keluarga Rasulullah Saw, menghinakan dan menghancurkan mereka? “Hanya untuk Allah, kemuliaan, dan untuk rasul-Nya serta untuk orang-orang Mukmin.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 8).”

Sayidah Zainab Kubra sa betul-betul manifestasi kemuliaan. Sebagaimana pula Imam Husain bin Ali as di Karbala dan di Hari Asyura adalah manifestasi kemuliaan yang sesungguhnya. Pandangan beliau terhadap semua peristiwa berbeda dengan pandangan orang lain. Dengan semua bencana yang menimpa, ketika musuh ingin mencela beliau, beliau malah berkata, “Ma ro’aytu illa jamila.” (Luhuf, hal. 160); yang kulihat hanyalah keindahan. Ada kesyahidan di sana, ada derita, tapi semuanya di jalan Allah Swt, demi menjaga Islam, demi menciptakan arus sepanjang sejarah agar Umat Islam mengerti apa yang harus mereka lakukan, bagaimana mereka mesti bergerak, dan seperti apa seyogianya mereka bertahan. Inilah kerja besar gelora Zainabi. Inilah kemuliaan wali Allah Swt. Sayidah Zainab sa salah satu dari wali Allah Swt. Kemuliaan beliau adalah kemuliaan Islam, beliau memuliakan Islam, beliau memuliakan Al-Qur’an. Kita tentu saja tidak punya ketinggian itu dan tidak punya semangat menjulang itu sehingga layak untuk mengatakan bahwa perilaku wanita agung ini teladan kita. Kita lebih kecil daripada itu. Tapi yang jelas dan pasti bahwa gerakan kita harus searah dengan gerakan Zainabi, semangat dan cita-cita kita haruslah kemuliaan Islam, kemuliaan masyarakat Islam, dan kemuliaan umat manusia. Sebagaimana Allah Swt telah menetapkan hal itu kepada para nabi dengan hukum agama dan syariat.”

Pemimpin Revolusi Islam Imam Ali Khamenei melanjutkan, “Apa yang pada bagian pertama pidato ini ingin saya jelaskan secara singkat kepada kalian saudara-saudara Basiji dan pemuda-pemudi tercinta adalah, salah satu faktor yang melahirkan mental dan kesabaran seperti ini di dalam diri Sayidah Zainab Kubra sa serta para wali Allah Swt yang lain sehingga mereka bergerak sehebat itu ialah KESETIAAN. Mereka bersikap setia terhadap janjinya kepada Allah Swt, mereka betul-betul setia memasrahkan hati di jalan Allah Swt. Dan ini poin yang sangat penting.
Di dalam Al-Qur’an, kesetiaan ini juga dinyatakan sangat penting bagi para nabi agung Ilahi. Allah Swt berfirman:

وَ اِذ اَخَذنا مِنَ النَّبِيينَ ميثاقَهُم وَ مِنکَ وَ مِن نوحٍ وَ اِبرهيمَ وَ موسي وَ عيسي ابنِ مَريمَ وَ اَخَذنا مِنهُم ميثقاً غَليظاً، لِيسئَلَ الصَّدِقينَ عَن صِدقِهِم (الاحزاب 7-8)

Wahai Nabi! Kami telah ambil perjanjian darimu, Kami telah ambil perjanjian dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Kami telah ambil perjanjian dari semua nabi. Dan perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat teguh dan kuat. Huruf lam (ل) di dalam kata liyas’al (لِيسئَلَ), menurut istilah kita para santri disebut dengan huruf lam akibat. Sehingga makna ayat ini adalah: akibat atau konsekuensi dari perjanjian ini ialah para nabi besar ditanya dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt tentang kesetian mereka terhadap perjanjian tersebut. Artinya, Nabi kita Nabi Muhammad Saw dan para nabi besar Allah Swt harus mementaskan kesetiaan mereka di hadapan Allah Swt dalam menunaikan janji Ilahi itu.

Ini keterangan Al-Qur’an mengenai para nabi. Al-Qur’an juga punya penjelasan tentang hal ini untuk orang-orang biasa dan Mukminin. Allah Swt berfirman:

مِنَ المُؤمِنينَ رِجالٌ صَدَقوا ما عهَدُوا اللهَ عَلَيهِ فَمِنهُم مَّن قَضي نَحبَهُ وَ مِنهُم مَن ينتَظِر وَ ما بَدَّلُوا تَبديلاً، لِيجزِىَ اللهُ الصَّدِقينَ بِصِدقِهِم و يعَذِّبَ المُنافِقينَ اِن شاء (الاحزاب 23-24)

(Artinya: Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah –janji-Nya–. Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang shadiq itu karena kesetiaannya, dan menyiksa orang-orang yang munafik jika Dia kehendaki. (QS. Al-Ahzab [33]: 23-24)

Di dalam penjelasan mengenai para nabi besar, lawan dari Shodiq (setia) disebutkan Kafir (ingkar). Allah Swt berfirman:

و اَعَدَّ لِلکفِرينَ عذاباً اَليما (الاحزاب 8)

(Artinya: Dan Allah menyediakan siksa yang pedih bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Ahzab [33]: 8.)

Sementara dalam penjelasan mengenai orang-orang mukmin, lawan dari kata Shodiq (setia) disebutkan Munafiq (bermuka lebih dari satu). Dan ini mengandung banyak makna.

Yang pasti, saya dan kalian semua juga akan ditanya serta dimintai pertanggungjawaban tentang janji kita kepada Allah Swt; kita semua pernah berjanji kepada Allah Swt.” (WF)

Hits: 121

Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat