Wilayatul Faqih – Imam Khumaini (1)

Imam Khumaini: Wilayatul Faqih termasuk tema yang pemahamannya berdampak pada pembenaran. Tidak begitu butuh pembuktian. Artinya, setiap orang yang mengenal keyakinan dan hukum Islam walau hanya secara global, begitu sampai pada masalah Wilayatul Faqih dan dia mulai menangkap gambarannya, maka dia akan langsung membenarkan.[]

Pengenalan Buku

Bismillahirrohmanirrohim

Puja-puji kehadirat Allah Swt. Tiada daya dan kekuatan kecuali pada Allah Maha Tinggi Maha Agung. Shalawat serta salam atas Rasulullah Saw Muhammad penutup para nabi dan keluarga suci beliau.

Buku Wilayatul Faqih ini kumpulan dari 13 pidato Imam Khumaini ra pada rentang waktu antara 13 Dzul Qa’dah sampai 2 Dzul Hijjah 1389 H (21/1 – 9/2 1970 M). Tepatnya ketika beliau tinggal di kota Najaf Asyraf.

Ketika itu, pidato-pidato ini diperbanyak dan diterbitkan dengan berbagai cara. Kadang sebagian, kadang utuh. Adakalanya satu sesi, adakalanya pula berapa sesi.

Pasca penyuntingan dan verifikasi Imam pada musim gugur tahun 1349 Hs (Oktober 1970-januari 1971 M), naskah ini siap cetak. Untuk pertama kalinya naskah ini dicetak di Beirut. Lalu dikirimkan secara sembunyi-sembunyi ke Iran. Begitu juga dikirim ke sejumlah kota Eropa, Amerika, Pakistan, dan Afganistan agar dapat dimanfaatkan oleh Muslimin revolusioner setempat.

Sebelum kemenangan Revolusi Islam, tepatnya pada tahun 1356 Hs, buku ini dicetak di Iran dengan judul “Surat dari Imam Musawi Kasyiful Ghitha” dan dengan lampiran buku “Jihad Akbar”.

Pada masa kerajaan Rezim Pahlevi, buku Wilayatul Faqih sebagaimana karya lain Imam Khumaini masuk daftar hitam buku terlarang. Banyak sekali orang yang dijebloskan ke penjara dan disiksa hanya karena mencetak, memperbanyak, atau bahkan hanya karena membawa dan membaca karya ini. Namun, meski kuat sekali tekanan dari pihak Badan Keamanan SAWAK dan Rezim Kerajaan, tapi dukungan terhadap ide Pemerintahan Islam yang prinsip-prinsip fikihnya dijelaskan oleh Imam di dalam buku ini terus meluas dan menyebar di kalangan SDM muslim dan revolusioner. Baik di hauzah ilmiah, universitas maupun pusat-pusat perkumpulan lainnya. Ide pendirian Pemerintahan Islam berdasarkan Wilayatul Faqih menjadi salah satu cita-cita utama Kebangkitan 15 Khurdad dan Kebangkitan Imam Khumaini.

Perlu diperhatikan juga bahwa setelah pada tanggal 22 Bahman 1357 Hs (11/2/1979 M) Imam Khumaini berhasil memenangkan kebangkitan Ilahinya berkat pertolongan Allah Swt dan dukungan serta persatuan masyarakat, setelah menggulingkan rezim kerajaan Pahlevi dan mendirikan Republik Islam di Iran, beliau berdasarkan keinginan publik Bangsa Iran dan sesuai asas-asas Undang-Undang Dasar Sistem Pemerintahan Islam memikul tanggungjawab sebagai Pemimpin Revolusi dan Wali Faqih yang mengarahkan masyarakat Islam.

Karena itu, walau pun pokok-pokok teori Wilayatul Faqih beliau tertuang dalam buku ini, tapi pemahaman detil terhadap berbagai dimensi teori beliau hanya akan sempurna bila disertai dengan mencermati kebijakan-kebijakan praktis beliau selama memimpin, pandangan-pandangan beliau pasca kemenganan Revolusi Islam tentang asas Wilayatul Faqih dan jangkauan wewenang serta aspek-aspeknya. Begitu pula dengan memperhatikan pidato, pesan dan surat-surat beliau.

Berikut ini Anda dapat menyimak pidato-pidato beliau:

Pendahuluan

Bismillahirrohmanirrohim wa bihi nasta’in

Puja-puji kehadirat Allah Tuhan Alam Semesta. Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad serta keluarga suci beliau.

Urgensi dan Kejelasan Wilayatul Faqih

Tema pembahasan “Wilayatul Faqih” memberi kesempatan kepada kita untuk membicarakan berbagai persoalan tentangnya. Wilayatul Faqih termasuk tema yang pemahamannya berdampak pada pembenaran terhadapnya. Tidak begitu butuh pembuktian. Artinya, setiap orang yang mengenal keyakinan dan hukum Islam walau hanya secara global, begitu sampai pada masalah Wilayatul Faqih dan dia mulai menangkap gambarannya, maka dia akan langsung membenarkan. Dia akan melihatnya sebagai sebuah keniscayaan dan kepastian yang terang benderang. Adapun fakta bahwa sekarang Wilayatul Faqih tidak begitu diperhatikan sehingga seolah-olah butuh pembuktian, faktornya adalah situasi dan kondisi Muslimin. Terutama hauzah-hauzah ilmiah. Situasi dan kondisi ini punya latar belakang tersendiri yang akan saya isyaratkan.

Peran Penjajah dalam Mengenalkan Islam Secara Salah dan Kurang

Kebangkitan Islam sejak awal menghadapi masalah Yahudi. Merekalah yang pertama melakukan propaganda anti-Islam dan konspirasi intelektual. Sebagaimana Anda perhatikan, pengaruhnya menjangkau sampai sekarang. Baru setelah mereka, muncul kelompok-kelompok yang dari satu sisi lebih setan daripada Yahudi. Sejak sekitar tiga ratus tahun yang lalu, mereka memasuki negara-negara Islam sebagai penjajah.(*)

Untuk mencapai target-target kolonial, mereka memandang perlu untuk membuat persiapan-persiapan guna menghancurkan Islam. Tujuan mereka bukan menjauhkan masyarakat dari Islam supaya Kristen berkembang; sebab, mereka tidak percaya Kristen, tidak pula percaya Islam. Tapi selama ini, dan sepanjang Perang Salib (**) mereka merasakan bahwa penghalang kepentingan materialis dan yang betul-betul mengancam kepentingan materialis serta kekuasaan politik mereka adalah Islam, hukum-hukum Islam dan iman masyarakat terhadapnya. Itulah kenapa mereka menggunakan segala cara untuk melawan Islam, berpropaganda dan berkonspirasi anti Islam. Para dai yang mereka ciptakan di dalam hauzah-hauzah ruhaniawan, SDM yang mereka sebar di universitas-universitas dan yayasan-yayasan media negara atau perusahaan-perusahaan penerbitan, begitu pula Kaum Orientalis yang secara langsung melayani negara-negara penjajah, seluruhnya kompak melakukan distorsi terhadap hakikat Islam yang sejati. Akibatnya, banyak sekali dari masyarakat dan orang-orang berpendidikan yang tersesat dan salah paham Islam.

Islam adalah agama para pejuang yang mencari kebenaran dan keadilan. Agama orang-orang yang menuntut kebebasan dan kemerdekaan. Aliran rakyat yang berlaga melawan kolonial. Tapi, mereka mengenalkan Islam lain. Baik dulu maupun sekarang. Citra miring tentang Islam yang mereka ciptakan di benak masyarakat umum, dan model cacat yang mereka tampilkan di hauzah-hauzah ilmiah, adalah dalam rangka melucuti karakteristik hidup dan revolusioner Islam. Mereka tidak memberi peluang Muslimin berjuang, bangkit, menginginkan kebebasan, menuntut penegakan hukum-hukum Islam, mendirikan pemerintahan yang menjamin kebahagiaan mereka, atau mengharapkan kehidupan sebagaimana layaknya insan.

Sebagai contoh, mereka sebarkan bahwa Islam bukan agama yang komprehensif; bukan agama kehidupan; tidak punya sistem-sistem dan undang-undang untuk masyarakat, dan tidak menyuguhkan model pemerintahan atau undang-undang kenegaraan. Islam tidak lebih dari hukum darah haid dan nifas. Islam juga mengajarkan akhlak, tapi tidak punya apa-apa untuk kehidupan dan manajemen masyarakat.

Sayang sekali propaganda busuk mereka efektif. Sekarang, bukan hanya masyarakat umum, bahkan lapisan masyarakat terdidik, baik dari kalangan akademis maupun hauzah ruhaniawan, banyak yang tidak memahami Islam secara benar. Gambaran mereka tentang Islam keliru. Seperti masyarakat yang tidak mengenal orang asing, mereka juga tidak mengenal Islam. Islam asing di antara mereka.

Sekiranya ada orang yang ingin mengenalkan Islam apa adanya, masyarakat tidak mudah menerimanya. Bahkan agen-agen kolonial segera membuat keributan di hauzah-hauzah.

Supaya lebih jelas jarak perbedaan antara Islam dan apa yang diperkenalkan, saya ajak Anda untuk memperhatikan perbedaan Al-Qur’an dan buku-buku Hadis dengan risalah amaliah-risalah amaliah (panduan praktis untuk Muslimin). Al-Qur’an dan buku-buku Hadis yang merupakan sumber ajaran dan hukum Islam, dari sisi kelengkapan (komprehensivitas) dan pengaruh yang dapat diberikan terhadap kehidupan sosial sangat terpaut jauh dengan risalah amaliah-risalah amaliah karya para mujtahid dan marjik kontemporer. Ayat-ayat sosial Al-Qur’an jika dibandingkan dengan ayat-ayat ibadahnya bahkan lebih dari seratus banding satu! Dari paket lengkap “Kitab” (***) hadis yang sekitar lima puluh “Kitab” dan memuat seluruh hukum Islam, hanya tiga sampai empat “Kitab” yang berhubungan dengan ibadah dan tugas-tugas manusia terhadap Tuhan; ada juga sedikit tentang akhlak; sisanya semua berhubungan dengan persoalan sosial, ekonomi, hukum, politik, dan manajemen masyarakat. (WF/Weloyate Faqih, 9-11).

(*) Sejak pertengahan abad keenam belas Masehi, yakni lebih dari tiga abad yang lalu Portugis, dan setelah itu Belanda, Inggris, Prancis dan Italia menjajah negara-negara berpenduduk Muslim. Mulanya negara-negara Afrika yang baru ditemukan. Dan setelah ditemukannya jalur-jalur laut, mereka menjajah negara-negara asia.

(**) Perang Salib terjadi di antara Kaum Kristen Eropa dan Muslimin pada abad kesebelas dan tiga belas Masehi. Kaum Kristen ingin merebut Baitul Maqdis dari Muslimin. Peperangan yang berlangsung dalam delapan tahap, dimulai dengan fatwa Paus Urbanus II pada tahun 1096 M (489 H) dan berakhir dengan kematian St Louis, Raja Prancis, pada tahun 1270 M (669 H). Kaum Kristen ketika itu mengenakan seragam kain merah berlambang salib di lengan. Karena itu mereka dikenal sebagai Salibis.

(***) “Kitab” dalam terminologi Ahli Fikih dan Hadis berarti bab yang di dalamnya terkumpul hadis-hadis mengenai satu tema, atau tentang hukum-hukum tertentu mengenai sebuah tema pembahasan. Sebagai contoh, “Kitab Tauhid”, “Kitab Iman dan Kufur”, “Kitab Shalat”, dan lain sebagainya. Sebagai contoh juga, Al-Kafi dalam hadis memuat 35 “Kitab”. Atau Syaro’i’ al-Islam di dalam fikih memuat 50 “Kitab”.

Hits: 124

Imam Khumaini, Teori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat