Hari Republik Islam Bisa Jadi Lebaran Bagi Semua Orang Muslim

Imam Ali Khamenei, Sabtu tanggal 10/1/1364 Hs (30/3/1985 M), dalam wawancaranya mengatakan, “Hari ini (Hari Republik Islam) bukan hanya lebaran bagi masyarakat Iran, bahkan bisa jadi lebaran bagi semua orang Muslim.”

Hari ini (1/4/17) adalah ulang tahun Hari Republik Islam (12 Farwardin). Adapun wawancara beliau mengenai referendum dan Hari Republik Islam (12 Farwardin) Anda dapat baca selengkapnya sebagai berikut:

Pertanyaan:

Terimakasih atas waktu yang telah Anda berikan kepada kami. Sebagaimana maklum, kita sedang menyongsong ulang tahun ketujuh tegaknya Sistem Republik Islam Iran. Enam tahun lalu, di hari-hari seperti ini, bangsa kita berpartisipasi sangat luas dalam Referendum Republik Islam Iran dan menjatuhkan pilihannya kepada Republik Islam. Sekiranya Anda ingin menyampaikan sesuatu, atau mungkin ada kenangan indah dari hari-hari itu yang Anda ingat sekarang, silahkan Anda sampaikan.

Keterangan Imam Khamenei:

Bismillahirrahmanirrahim

Banyak sekali hal tentang Hari Republik Islam dan Hari Referendum. Dan tentu saja saya punya berbagai kenangan dari hari itu. Tapi jelas tidak bisa disampaikan semuanya pada kesempatan singkat ini.

Singkat kata, Hari Republik Islam adalah sebuah penggalan sejarah yang tiada duanya di dalam sejarah negeri kita. Karena untuk pertama kalinya pasca Awal Sejarah Islam, setelah selang waktu singkat awal-awal tahun penaklukan Iran oleh Muslimin, dideklarasikanlah sebuah sistem pemerintahan yang mempunyai dua karakteristik kerakyatan dan ketuhanan; yakni Republik Islam.

Memang, pada awal-awal tahun penaklukan Iran oleh Muslimin sempat berdiri pemerintahan-pemerintahan Islami. Tapi singkat sekali. Dan sepanjang sejarah panjang negeri ini, untuk pertama kalinya pasca Awal Sejarah Islam dan setelah selang waktu singkat tersebut dideklarasikan sistem pemerintahan yang punya dua ciri kerakyatan dan ketuhanan; yakni Republik Islam.

Pada dasarnya kenangan ini tidak bisa dibandingkan dengan kenangan lain dalam sejarah kita. Ini merupakan titik penyempurnya dan pelengkap Revolusi 22 Bahman. Dengan kata lain, ringkasan dan intisari dari Revolusi 22 Bahman adalah Hari Republik Islam, Hari 12 Farwardin.

Hari Republik Islam juga sangat penting dari sisi lain. Dari sisi bahwa ini model pertama di dunia modern yang sedang menyuguhkan cara lain dalam pemerintahan kepada masyarakat dunia dan di tengah berbagai aliran, sistem, politik, serta pandangan. Ini model pertama yang sedang disaksikan oleh masyarakat dunia. Ada beberapa model republik yang dideklarasikan di dunia; republik-republik sosialis, republik-republik ala demokrasi barat dengan berbagai variasinya. Semuanya tidak ada yang baru. Dasar Republik itu sendiri juga bukan hal baru. Tapi, republik yang paradigma, nilai-nilai dasar, dan kaidah-kaidah fundamentalnya diambil dari agama Islam adalah sesuatu yang tiada duanya.

Ada juga ciri lain dari Hari Republik Islam kita. Yaitu bahwa hari ini bukan hanya lebaran bagi masyarakat Iran, bahkan bisa jadi lebaran bagi semua orang Muslim. Yakni lebaran bagi sekitar satu miliar orang. Mereka, yakni bangsa-bangsa Muslim terbiasa melihat Islam dalam posisi bertahan, reaktif, dan terisolir. Ketika ada bangsa yang berposisi ofensif dan siaga melawan kekuatan-kekuatan hegemoni dan menghadapi sistem-sistem mansuawi yang cacat serta mendeklarasikan sebuah Republik berdasarkan Islam, maka ini bisa menjadi faktor kebanggaan dan kehormatan bagi seluruh bangsa Muslim. Ringkasnya, ada berbagai karakteristik dalam Hari Republik Islam.

Di antara kenangan hari-hari itu yang saya ingat sekarang adalah ketika itu, saya sedang berada di kota Kerman. Saya ditugasi oleh Imam Khumaini untuk pergi ke Balujestan dan bertemu langsung dengan penduduk kota-kota Balujestan serta menyampaikan pesan beliau kepada mereka. Pesan cinta dan penuh iba. Kalian dapat perhatikan betapa Imam dari sejak awal sudah memikirkan nasib orang-orang Mustadafin yang terpencil dan selama ini terlupakan. Bahkan, pada era rezim sebelumnya (rezim Pahlevi), beliau sudah menunjukkan kasih sayang dan cinta itu. Beliau mengutus saya yang punya pengalaman panjang di sana untuk pekerjaan ini.

Di tengah perjalanan menuju Balujestan, saya sampai ke kota Kerman. Ketika itu Hari Referendum. Di Bandara, anak-anak Hizbullahi dan penuh semangat Kerman datang membawa kotak suara. Ada berapa kotak suara. Dan masing-masing dari mereka ingin saya masukkan suara saya ke kotak yang mereka bawa. Mereka juga mengenal saya. Karena sebelumnya saya juga pernah pergi ke Kerman dan cukup kenal dengan masyarakat di sana. Sejak dulu saya sangat menyukai masyarakat Kerman. Mereka orang-orang yang ramah dan menarik. Begitulah mereka selalu di mata saya. Itu saat-saat yang manis bagi saya di sana. Ketika saya memasukkan suara ke dalam kotak, saya menyaksikan semangat dan keceriahan masyarakat Kerman pada saat memberikan suara. Dan setelah itu diumumkan 99% suara memilih “IYA” terhadap Republik Islam.

Kenangan lain yang ingin saya sampaikan secara singkat di sini adalah penentangan terhadap pola pengambilan suara seperti ini. Penentangan ini datang dari berbagai pihak. Berapa waktu setelah itu menampakan jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka pada umumnya menguasai media massa dalam negeri saat itu. Cendekiawan-cendekiawan kiri, semi kiri, liberal, dan campuran. Mereka menggenggam media massa zaman itu, seperti koran Ettelaat dan Kayhan. Tapi alhamdulillah setelah itu mereka tersingkirkan. Tidak ada media tandingan ketika itu. Tidak ada koran Republik Islam ketika itu. Tidak ada koran lain yang bisa diandalkan. Karena itu, mereka dengan leluasa dan seenaknya menuliskan apa yang mereka inginkan.

Mereka pergi ke sana kemari. Cendekiawan-cendekiawan sektarian politik ateis dan semi ateis ini mendatangi berbagai tokoh untuk menanyakan apa pandangan Anda mengenai pola pemungutan suara “IYA” dan “TIDAK”? Benar atau salah? Kadang mereka mengutarakan cara pemberian sejumlah opsi macam pemerintahan lalu diambil pemungutan suara. Tujuan mereka tiada lain adalah menjauhkan masyarakat dari keserempakan dan persatuan. Walau pun apa pun yang mereka lakukan tidak ada bedanya. Yakni tidak akan berpengaruh apa-apa.

Tentu saja masyarakat sama sekali tidak melirik pola-pola lain itu. Apalagi setelah Imam Khumaini ra secara tegas sekali menyatakan, “Republik Islam, tidak satu kata kurang, tidak satu kata lebih.” Tapi meskipun demikian, mereka tetap bergerak dengan harapan siapa tahu bisa menciptakan celah di tengah masyarakat, mengurangi suara mereka, atau memecah suara mereka. Situasinya khas sekali di antara kita di dalam Dewan Revolusi dan mereka, sayap liberal atau yang kadang diistilahkan dengan Nasionalis. Ciri yang paling menonjol dari mereka adalah penentangan terhadap garis utama Revolusi. Pada akhirnya pola pemungutan suara inilah yang berlaku. Dan kita berhasil membuktikan bahwa memang pola inilah yang benar. (WF)

Hits: 46

Berita, Imam Khamenei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat