Tahrirul Wasilah – Ijtihad dan Taklid 1

Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Puja-puji kehadirat Allah Tuhan Alam Semesta. Shalawat serta salam atas Nabi Muhammad Saw dan keluarga suci beliau. Dan laknat Allah atas musuh-musuh mereka semua.

Selanjutnya –saya ingin katakan bahwa- dulu, saya pernah memberi catatan terhadap kitab Wasilah al-Najah karya Sayid Hujjat al-Faqih al-Isbahani. Semoga hati mulianya senantiasa tersucikan.

Pada akhir Bulan Jumadi Tsani 1384 H, saya diasingkan dari kota Qom ke Boursia; salah satu kota di Turki karena berbagai peristiwa menyedihkan yang menimpa Islam dan Muslimi. Mudah-mudahan saja sejarah mencatat peristiwa-peristiwa itu.

Di pengasingan, walau pun dalam pengawasan ketat, tapi saya jadi punya banyak kesempatan. Karena itu, saya ingin menuangkan catatan-catatan itu dalam sebuah karya tulis agar lebih mudah untuk dicerna. Dan sekiranya Allah Swt memberikan taufik-Nya, saya akan menambahkan beberapa persoalan yang sering dialami.

Kami mengharapkan taufik dari Allah Swt, dan doa kebaikan dari para pengamat budiman agar segala bencana segera dijauhkan dari negeri Muslimin; terutama Ibukota Syiah, dan agar tangan-tangan asing terpenggal darinya. Begitu pula doa khusnul khatimah untuk alfaqir.

Tahrirul Wasilah (Hal. 9)

IJTIHAD & TAKLID

Pengantar

Ketahuilah bahwa wajib hukumnya bagi semua orang mukallaf selain yang mencapai tingkat ijtihad dalam hal-hal non-darurat — baik itu berupa ibadah maupun muamalat, baik itu berupa hal yang mustahab maupun mubah — untuk berlaku sebagai mukalid. Atau berlaku sebagai muhtath (orang yang berhati-hati) tapi dengan syarat dia mengetahui tempat-tempat diperlukannya ihtiyath. Tentunya hanya sedikit orang yang mengetahui hal tersebut.

Dengan demikian, amal seorang awam — selain yang tahu tempat-tempat ihtiyath — tanpa taklid adalah batal.

Adapun perinciannya sebagai berikut:

(Persoalan 1):

Boleh hukumnya beramal atas dasar ihtiyath walau pun hal itu menuntut pengulangan. Ini menurut pendapat yang lebih kuat.

(Persoalan 2):

Taklid adalah amalan atas dasar fatwa seorang fakih tertentu. Taklid ini merupakan topik bagi dua persoalan berikutnya.

Iya, apa yang merupakan pembenar (penentu kesahan) sebuah amalan adalah pelaksanaannya atas dasar hujjah (bukti) — seperti fatwa seorang fakih –, walau pun boleh jadi hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai taklid. Nanti akan datang pembahasan bahwa sekedar kesesuaian perbuatan dengan fatwa seorang fakih dapat membenarkan (mengesahkan) perbuatan tersebut.

(Persoalan 3):

Wajib hukumnya Marjik Taklid merupakan orang yang alim, mujtahid, adil, dan wara’ dalam agama Allah. Bahkan ihtiyath wajib hukumnya dia merupakan orang yang tidak tertarik kepada dunia, tidak serakah kepada dunia, dan tidak mengejarnya — baik itu berupa kedudukan atau pun harta–.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

Barangsiapa  ada orang di antara fukaha yang membentengi dirinya, menjaga agamanya, menentang hawa nafsunya, dan taat terhadap perintah maulanya, maka hendaknya orang-orang awam bertaklid kepadanya (mengikutinya).

(Persoalan 4):

Setelah taklid — kepada seorang marjik –, boleh hukumnya seseorang berpindah taklid dari –marjik- yang hidup kepada –marjik lain- yang hidup pula dan setara denganya — secara keilmuan –. Dan ihtiyath wajib hukumnya berpindah apabila marjik yang kedua lebih alim daripada yang pertama. (WF)

Hits: 75

Fatwa, Imam Khumaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat